Rasa dan Asa

Sekarang kukabari sebuah berita.
Senja sudah tenggelam
Peduli tidak?
Aku sih peduli, sebab karenanya puisi ini terinspirasi.
Semoga kau tidak cemburu.
Ah mungkin kurasa jawabannya tidak.
Kau tau tidak hari ini ada yang hampa.
Ada hal yang memukul relung hati.
Kau tak perlu tau, yang wajib kau tau cukup kebahagiaan saja.
Oh iya senja tiada, aku lupa.
Tak teringat sedetikpun sebab pikiran selalu menanti denting ponsel.
Bunyi sederhana saja sudah bisa membuat tangan lekas membuka gembok ponsel.
Cepat sekali, seperti pencopet jalanan yang sudah terampil melakukan aksinya.
Tapi bedanya, risiko dari pencopet itu adalah dipukuli dan tidak dapat uang pemasukan, kalau aku risikonya adalah jatuh cinta yang mendalam, kurasa tidak apa aku melakukannya.
Walau kadang cemburu sih, sedikit dongkol juga.
Ya itu risiko dari risiko jatuh cinta, namanya juga jatuh, pasti ada sakitnya.
Yang indah kan cintanya bukan?
Bukan, yang indah adalah kamu.
Hey, pemilik perasaan ini.
Yang jauh di seberang pulau.
Pegang erat hubungan jangan sampai ada yang halau.
Doa adalah perangkat terbaik untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Tak terhalang jarak.
Pulau.
Waktu.
Manusia.
Pohon-pohon.
Listrik.
Dan juga koneksi internet.
Doa bebas berterbangan dilangit.
Berdoa saja selalu, semoga aku terbaik dan kau terbaik, maka bersatu adalah kesempurnaan.

Komentar

Postingan Populer